Untukmu, yang pernah menjadi rumah.
Hari ini, tepat sepuluh tahun sejak cerita kita dimulai. Seandainya hidup mengambil arah yang berbeda, mungkin hari ini kita merayakan sepuluh tahun bersama. Aku tidak menulis untuk mengubah apa pun. Aku hanya ingin memberi tempat pada sebuah rasa yang sesekali masih datang.
Aku rindu. Ada saat-saat ketika aku ingin kembali sebentar saja, memelukmu, mencium keningmu, lalu tertawa mengenang betapa bodohnya kita ketika masih muda. Kita pernah tumbuh bersama sambil belajar mencintai dengan cara yang tidak selalu benar. Ada hal-hal yang baru kupahami setelah jarak menjadi begitu jauh.
Senyummu masih menjadi salah satu hal yang paling kusuka untuk kuingat. Dan mungkin bagian tersulit dari merelakan adalah mengetahui bahwa aku sungguh ingin kamu terus tersenyum, meskipun sekarang bukan aku alasan di balik tawa yang menari-nari itu.
Aku mendoakan yang terbaik untuk hidupmu, bahkan pada hari-hari ketika doa itu terasa lebih mudah diucapkan daripada diterima oleh hatiku sendiri.
Ada bagian kecil dari cerita kita yang tak pernah kupaksa lupa. Aku masih mengagumi hal-hal sederhana tentangmu. Namun, aku tidak menulis untuk meminta jawaban, apalagi mengubah kehidupan yang kini kamu jalani.
Aku pun punya kehidupan yang sedang kujaga. Aku sedang belajar bahwa merindukan masa lalu tidak berarti harus kembali tinggal di dalamnya; bahwa menginginkan seseorang bahagia tidak berarti aku harus menjadi alasan kebahagiaannya.
Untuk tanggal yang pernah begitu berarti ini, terima kasih atas tahun-tahun yang pernah kita bagi. Semoga hidup memperlakukanmu dengan lembut. Semoga ada banyak hal baik yang membuatmu tersenyum, bahkan ketika aku tidak lagi mengetahui kabarmu.