Untukmu, yang masih sesekali kulihat dari kejauhan.
Aku kira setelah semua waktu yang lewat, jawabannya akan menjadi sederhana. Bahwa yang sudah berakhir akan tinggal di belakang, dan yang hidup sekarang akan mengambil seluruh ruang di depan. Ternyata tidak selalu begitu. Ada perasaan yang tetap ikut berjalan, bukan karena aku ingin kembali ke masa lalu, tetapi karena sebagian dari diriku masih belum tahu harus menaruh delapan tahun itu di mana.
Kita dulu terlalu muda untuk memahami seberapa besar sesuatu bisa hilang dari tangan kita. Kita membuat keputusan yang buruk, saling melukai, saling memaafkan, berpisah, lalu kembali lagi seolah cinta cukup untuk memperbaiki semuanya. Aku pun pernah menjadi alasan luka yang tidak seharusnya kamu tanggung. Ketika akhirnya aku belajar mencintaimu dengan cara yang lebih utuh, hidup justru membawa kita ke tempat yang tidak pernah kubayangkan.
Aku tidak menyesal pergi pada hari itu. Sampai sekarang pun aku tahu kenapa aku melakukannya. Tetapi ada pertanyaan yang kadang masih datang tanpa diundang: setelah aku pergi, apakah ada sesuatu dalam dirimu yang ikut runtuh, atau kamu hanya melanjutkan hidup seperti seseorang yang sebenarnya sudah lebih dulu bersiap meninggalkan kita?
Barangkali aku tidak akan pernah tahu jawabannya. Dan mungkin memang tidak perlu. Yang kutahu, ketika aku melihat kembali cerita kita, ada perasaan yang masih tertinggal di belakang seperti sesuatu yang tampak kecil dari kejauhan, tetapi tetap kukenali setiap kali menoleh.
Yang paling sulit bukan menerima bahwa kita berakhir. Yang paling sulit adalah menerima bahwa seseorang yang pernah begitu dekat denganku akhirnya menemukan kehidupan lain, dan aku harus belajar hidup dengan kenyataan bahwa tempat di sisimu bukan lagi milikku.
Aku pernah berpikir kita akan tumbuh tua dengan membawa semua kebodohan masa muda sebagai cerita yang suatu hari bisa kita tertawakan. Nyatanya, kita tumbuh dewasa ke arah yang berbeda. Kamu masuk ke kehidupan seseorang yang lain. Aku pun membangun kehidupanku sendiri. Dan anehnya, dua kenyataan itu tetap bisa berdiri berdampingan dengan satu hal yang belum sepenuhnya hilang: aku masih menyimpan rasa untukmu.
Bukan rasa yang akan kubawa mengetuk pintumu. Bukan permintaan agar kamu memilih kembali. Aku tidak ingin merusak apa pun yang sedang kamu jalani, dan aku juga punya seseorang serta kehidupan yang kupilih untuk kujaga. Tetapi aku ingin jujur setidaknya sekali: ada hari-hari ketika aku masih bertanya bagaimana hidup kita jika dahulu kita tidak terlepas dari satu sama lain.
Mungkin inilah bagian yang paling membingungkan. Aku bisa mendoakanmu bahagia dan tetap merasa sedih karena bukan aku yang menjadi alasan bahagia itu. Aku bisa menerima bahwa kamu sudah pergi dan tetap merasa kehilangan. Aku bisa mencintai kehidupan yang kumiliki sekarang sambil mengakui bahwa pernah ada masa depan lain yang sangat kuinginkan bersamamu.
Jadi aku tidak sedang meminta jawaban. Aku tidak sedang menunggu sebuah keputusan. Aku hanya sedang mengakui sesuatu yang selama ini terlalu mudah kusembunyikan di balik kata “sudah lewat”: kamu pernah menjadi bagian yang begitu besar dari hidupku, dan sebagian kecil dari rasa itu ternyata masih ikut bersamaku sampai hari ini.